Mengenai Saya
Pengikut
Popular Posts
-
Alhamdulillah, Program SM-3T Akhirnya Tetap Dilanjutkan, Penerimaan Angkatan VI untuk Kuota 1.000 Peserta rencana Dibuka Akhir April 2016 | ...
-
There is nothing important than health. That is what people say. I sometimes hear that but it doesn't really make sense for me. It is...
-
Bukan untuk mencari jempol atau pujian, hanya ingin berbagi dan semoga menjadi berkat. Tadi sekitar jam 2 siang, dalam perjalanan pul...
-
Akhirnya, setelah sekian lama hanya bisa melihat status teman-teman facebook dan foto-foto mereka mengunjungi candi borobudur, kini giliran ...
-
On January 27, 2012, Minister of Education in Indonesia announced the passing policy requirement that S1, S2, S3 college student, started...
Senin, 04 Juli 2016
Bukan untuk mencari jempol atau pujian, hanya ingin berbagi
dan semoga menjadi berkat.
Tadi sekitar jam 2 siang, dalam perjalanan pulang dari
Basecamp SM-3T Angkatan V LPTK UNM penempatan Kepulauan Aru dengan motor butut
saya, lewat jalan yang memang jarang dilalui angkutan umum seperti angkot dan
ojek karena sepanjang poros jalan tersebut masih sangat kurang penduduk. Di tengah
jalan, saya melihat seorang ibu (±55 thn) dengan menjunjung (membawa barang di
atas kepala) kantong plastik besar dan sebuah parang kebun di tangan kirinya
tanpa memakai sandal menyusuri jalan aspal. Saya tahu ibu ini baru pulang dari
kebun. Segera saya berhenti dan menawawrkan tumpangan. Sepanjang jalan saya
banyak bertanya karena jarak rumahnya lumayan jauh. Sepanjang cerita beliau,
saya menangkap bahwa di usianya yang sudah tidak lagi muda, dengan kondisi
fisik yang tidak lagi kuat, beliau setiap harinya sibuk kekebun agar dapat
menjual sayur kepasar dan memecah batu karang untuk dijual demi membiayai anak
bungsunya yang sekarang sedang kuliah semester empat di Ambon. Saya percaya,
ada harapan dalam hati beliau untuk keberhasilan anaknya suatu saat nanti.
Mendengar perjuangan berat beliau untuk menyekolahkan
anaknya, hati saya tak habis-habisnya bersyukur diberi kesempatan mendapat
gelar sarjana dengan beasiswa dari PEMDA setempat. Sungguh beruntung bagi anak-anak
yang memiliki orang tua dengan pekerjaan yang menjanjikan karena dipastikan
mereka mampu membiayai kuliahnya. Namun lebih beruntung lagi anak-anak yang
orang tuanya bekerja dengan keras, membanting tulang untuk biaya kuliahnya,
karena selain pesan-pesan orang tua agar kuliah dengan baik, pasti ada doa dan harapan
untuk keberhasilan anak-anaknya kelak.
Yang menyedihkan adalah ketika banyak anak-anak menganggab
masa kuliah adalah masa kebebasan dan kesempatan. Bebas karena tidak lagi
terikat dengan pekerjaan-pekerjaan rumah dan jam malam. Bebas melakukan ini dan
itu, apalagi kalau kuliah di luar daerah. Kesempatan untuk melakukan hal-hal
yang biasanya dilarang orang tua, bersenang-senang, dan menikmati hal-hal yang
biasanya tidak ada di kampung. Pada akhirnya, banyak di antara mereka yang menyelesaikan
kuliah lebih lama dari waktu yang sewajarnya. Parahnya, bahkan tidak jarang
yang berhenti di tengah jalan karena DO atau tidak bayar uang kuliah karena
kiriman orang tua sudah habis untuk berfoya-foya. Lebih parahnya lagi jika
tanggungan orang tuanya bertambah menjadi dua atau tiga orang akibat pergaulan
bebas (kondisi ini banyak terjadi bagi anak perempuan yang kuliah, tidak
menjaga diri baik-baik, dan akhirnya memiliki anak). Ujung-ujungnya, banyak
yang kembali ke kampung halaman tidak membawa ijazah, namun pulang dengan anak,
dengan atau tanpa istri/suami (lebih tepatnya pacar/…..? karena tidak menikah).
Kembali ke cerita ibu tadi, akhirnya saya mengantar beliau
dengan selamat sampai ke depan rumahnya. Setelah menurunkan barangnya, beliau
berterima kasih sambil mendoakan saya umur panjang, yang saya tahu adalah doa
yang ikhlas yang keluar dari hatinya. Akhirnya, saya lanjut pulang kerumah
dengan senyum syukur di hati saya kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk
menolong beliau dan juga untuk berbagi kisah ini, dengan harapan menjadi berkat
bagi yang membaca, dan inspirasi serta motivasi bagi adik-adik yang baru mau
kuliah atau sementara berjuang menyelesaikan kuliah. Jangan menyia-nyiakan
kesempatan, terlebih memusnahkan harapan dan doa dari orang tua kalian. Banyak
yang ingin menikmati rasanya duduk di bangku kuliah namun terbatas dalam segala
hal, seperti saya dulunya. Bersyukurlah untuk kesempatan yang ada, karena
kesempatan yang baik tidak selalu datang dua kali. Tapi ingat kesempatan yang
saya maksud adalah kesempatan untuk kuliah, bukan kesempatan untuk menikmati
kesenangan yang ditawarkan kehidupan kota, kos-kosan, dll. Tuhan Yesus
Memberkati.
Langganan:
Postingan (Atom)
