Pengikut

Popular Posts

Senin, 04 Juli 2016
Bukan untuk mencari jempol atau pujian, hanya ingin berbagi dan semoga menjadi berkat.  

Tadi sekitar jam 2 siang, dalam perjalanan pulang dari Basecamp SM-3T Angkatan V LPTK UNM penempatan Kepulauan Aru dengan motor butut saya, lewat jalan yang memang jarang dilalui angkutan umum seperti angkot dan ojek karena sepanjang poros jalan tersebut masih sangat kurang penduduk. Di tengah jalan, saya melihat seorang ibu (±55 thn) dengan menjunjung (membawa barang di atas kepala) kantong plastik besar dan sebuah parang kebun di tangan kirinya tanpa memakai sandal menyusuri jalan aspal. Saya tahu ibu ini baru pulang dari kebun. Segera saya berhenti dan menawawrkan tumpangan. Sepanjang jalan saya banyak bertanya karena jarak rumahnya lumayan jauh. Sepanjang cerita beliau, saya menangkap bahwa di usianya yang sudah tidak lagi muda, dengan kondisi fisik yang tidak lagi kuat, beliau setiap harinya sibuk kekebun agar dapat menjual sayur kepasar dan memecah batu karang untuk dijual demi membiayai anak bungsunya yang sekarang sedang kuliah semester empat di Ambon. Saya percaya, ada harapan dalam hati beliau untuk keberhasilan anaknya suatu saat nanti.  

Mendengar perjuangan berat beliau untuk menyekolahkan anaknya, hati saya tak habis-habisnya bersyukur diberi kesempatan mendapat gelar sarjana dengan beasiswa dari PEMDA setempat. Sungguh beruntung bagi anak-anak yang memiliki orang tua dengan pekerjaan yang menjanjikan karena dipastikan mereka mampu membiayai kuliahnya. Namun lebih beruntung lagi anak-anak yang orang tuanya bekerja dengan keras, membanting tulang untuk biaya kuliahnya, karena selain pesan-pesan orang tua agar kuliah dengan baik, pasti ada doa dan harapan untuk keberhasilan anak-anaknya kelak.

Yang menyedihkan adalah ketika banyak anak-anak menganggab masa kuliah adalah masa kebebasan dan kesempatan. Bebas karena tidak lagi terikat dengan pekerjaan-pekerjaan rumah dan jam malam. Bebas melakukan ini dan itu, apalagi kalau kuliah di luar daerah. Kesempatan untuk melakukan hal-hal yang biasanya dilarang orang tua, bersenang-senang, dan menikmati hal-hal yang biasanya tidak ada di kampung. Pada akhirnya, banyak di antara mereka yang menyelesaikan kuliah lebih lama dari waktu yang sewajarnya. Parahnya, bahkan tidak jarang yang berhenti di tengah jalan karena DO atau tidak bayar uang kuliah karena kiriman orang tua sudah habis untuk berfoya-foya. Lebih parahnya lagi jika tanggungan orang tuanya bertambah menjadi dua atau tiga orang akibat pergaulan bebas (kondisi ini banyak terjadi bagi anak perempuan yang kuliah, tidak menjaga diri baik-baik, dan akhirnya memiliki anak). Ujung-ujungnya, banyak yang kembali ke kampung halaman tidak membawa ijazah, namun pulang dengan anak, dengan atau tanpa istri/suami (lebih tepatnya pacar/…..? karena tidak menikah).


Kembali ke cerita ibu tadi, akhirnya saya mengantar beliau dengan selamat sampai ke depan rumahnya. Setelah menurunkan barangnya, beliau berterima kasih sambil mendoakan saya umur panjang, yang saya tahu adalah doa yang ikhlas yang keluar dari hatinya. Akhirnya, saya lanjut pulang kerumah dengan senyum syukur di hati saya kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk menolong beliau dan juga untuk berbagi kisah ini, dengan harapan menjadi berkat bagi yang membaca, dan inspirasi serta motivasi bagi adik-adik yang baru mau kuliah atau sementara berjuang menyelesaikan kuliah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan, terlebih memusnahkan harapan dan doa dari orang tua kalian. Banyak yang ingin menikmati rasanya duduk di bangku kuliah namun terbatas dalam segala hal, seperti saya dulunya. Bersyukurlah untuk kesempatan yang ada, karena kesempatan yang baik tidak selalu datang dua kali. Tapi ingat kesempatan yang saya maksud adalah kesempatan untuk kuliah, bukan kesempatan untuk menikmati kesenangan yang ditawarkan kehidupan kota, kos-kosan, dll. Tuhan Yesus Memberkati.